Beranda Berita Terkini Kementerian Kesehatan Telah Mencatat 241 Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius Pada Anak

Kementerian Kesehatan Telah Mencatat 241 Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius Pada Anak

 Swarabobar.com- Mengacu pada data terakhir Kementerian Kesehatan RI per (21/10/2022), Indonesia telah mencatat 241 kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak, dengan 131 pasien di antaranya meninggal dunia. Sejumlah pihak mengingatkan, penurunan volume dan frekuensi buang air kecil pada anak menjadi gejala yang wajib diwaspadai orang tua.

 

Pakar farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Zullies Ikawati menegaskan, pun anak tidak mengalami indikasi gejala tidak perlu dirawat, orang tua perlu melakukan pemantauan di rumah. Di antaranya, dengan memperhatikan frekuensi buang air kecil anak.

Baca Juga :  Digdaya di Dapil Lima : Aan Triana dan Firmansyah Berpeluang Lolos dengan Torehan Suara Gemilang

 

“Mungkin tidak ada indikasi rawat, tetapi di rumah tetap dipantau ya, orangtuanya diminta untuk memantau volume urine di rumah. Urinenya kira-kira selama 12-24 jam itu seberapa,” ungkap Prof Zullies dalam webinar ‘Kupas Tuntas Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak dan Dugaan Sirup Obat sebagai Penyebabnya’ di YouTube Kanal Pengetahuan Farmasi UGM, Sabtu (22/10/2022).

 

“Kalau sudah tidak urinasi, kalau yang agak sulit karena sekarang pada pakai diapers, itu harus ditengok. Atau malah mumpung di rumah, mumpung kondisi sedang sakit dan saat sekarang ini jangan pakaikan dulu. Karena harus tahu kira-kira dia urinasi atau tidak,” imbuhnya.

Baca Juga :  Perjalanan Samsul Hidayat Menuju DPRD Provinsi Jabar Melenggang Mulus Bersama Golkar

 

Terlebih jika anak mengalami perburukan gejala dengan muncul infeksi disertai batuk, segera bawa anak ke rumah sakit. Nantinya di rumah sakit, anak akan diberi pemeriksaan ureum dan kreatinin, serta pemeriksaan COVID-19. Pasalnya, kini Indonesia juga sudah kemasukkan subvarian Omicron XBB.

 

“Ada perberatan terkait dengan infeksi batuk dan lainnya, sudahlah itu langsung ke sana (rumah sakit). Kemudian nanti ketemu ureum dan kreatininnya tinggi, jelas akan dipastikan lagi COVID-nya atau apa, masih terus kita lakukan karena sekarang masuk lagi varian yang lain. Rumah sakit harus tetap menegakkan itu. Kalau ternyata tidak (COVID-19), pastikan pantau volume urine itu,” pungkas Prof Zullies. Dilansi dari detik.com. Ia juga memaparkan, indikasi anak perlu menjalani perawatan di rumah sakit terkait gangguan ginjal akut misterius adalah:

Baca Juga :  Sudah Satu Pekan Pencoblosan, Aan Triana Masih Menjawarai Posisi Tertinggi Raihan Suara di Dapil 5 (Lima)

Mengalami demam dalam kurang dari 14 hari terakhir
Mengalami gejala ISPA atau saluran cerna
Volume urine berkurang sesuai definisi Atypical Progressive Acute Kidney Injury

 

Artikulli paraprakPemerintah Resmi Larang Penjualan Obat Sirop Untuk Sementara Waktu
Artikulli tjetërWhatsapp Resmi Berakhir di iOS 10 dan iOS 11