Beranda Berita Terkini Bertajuk “ReQUESTIONing”, Ridwan Manantik Kembali Gelar Pameran Tunggal

Bertajuk “ReQUESTIONing”, Ridwan Manantik Kembali Gelar Pameran Tunggal

Bandung, Swarabobar.com – Ridwan Manantik, seorang penggiat lingkungan, kembali menggelar pameran tunggal di Gedung YPK, Jalan Naripan, Bandung dihelat dari 1 – 10 September 2022.

Adapun tema yakni “Requestioning” merupakan sebuah karya yang lahir dari pergulatan dan kegelisahan seputar sampah yang digeluti dalam 10 tahun terakhir ini di Parung Panjang, Kab. Bogor tempat dimana ia membangun kehidupannya.

Dimana, isu sampah dalam karya lukis sebelumnya cenderung linier tapi pameran kali ini membawa sudut pandang berbeda yang bertumpu pada gagasan memaknai sampah secara kontekstual dan kritis, paling tidak berlaku untuk kehidupan sekarang ini yang makin terekspos kerumitannya.

Baca Juga :  Digdaya di Dapil Lima : Aan Triana dan Firmansyah Berpeluang Lolos dengan Torehan Suara Gemilang

Pada pameran tunggalnya ini, Ridwan Manantik memperluas makna sampah tidak hanya dalam arti harfiah tetapi justru mempertanyakan ulang tentang benda atau barang yang dipandang bernilai yang seketika bisa berubah menjadi sampah, apakah persoalan sampah itu karena masalah pola pikir dan pola tindak manusia? Apakah karena soal tempat dimana barang itu diletakan atau memang dipandang tak berfungsi lagi.

Dengan perenungan yang mendalam itu Ridwan Manantik memandang bagaimana manusia mengkonstruksi nilai pada barang dan sampah secara bersamaan kemudian menuntun keberanian dirinya untuk menghadirkan sejumlah objek yang dipandang berharga di karya-karyanya seperti potongan citra dari karya Yayoi Kusama dan Andy Warholl, medali, boneka, mainan anak-anak dan lainnya berada di tengah tumpukan sampah.

Baca Juga :  Sudah Satu Pekan Pencoblosan, Aan Triana Masih Menjawarai Posisi Tertinggi Raihan Suara di Dapil 5 (Lima)

Penyatuan objek itu menjadi nampak satir, kontradiktif, dan ambigu yang menunjukkan suatu permainan tegangan nilai- nilai yang terbaca lugas mudah dikenali naratif dan representasional seperti yang telah dikerjakan sejak 36 tahun lalu.

Untuk memperkuat isu yang diangkat cara pajang pun digubah tidak seperti biasanya dimana lukisan berukuran cukup besar hanya disandarkan ke dinding beberapa yang ukurannya kecil tergeletak di lantai atau hanya disimpan di atas kursi.

Baca Juga :  Sudah Satu Pekan Pencoblosan, Aan Triana Masih Menjawarai Posisi Tertinggi Raihan Suara di Dapil 5 (Lima)

Cara ini seolah menunjukkan sisi lain perilaku manusia mengkonstruksi nilai yaitu peduli seperlunya atau sepenuhnya abai seperti ketika berhadapan dengan barang penting yang disetarakan dengan sampah atau sebaliknya. Cara pajang seperti itupun menjadi bagian dari kritik yang di konseptualisasi.

Bagaimanapun pameran “Requestioning” punya daya ganggu menarik perhatian selain untuk direnungkan. ****

Artikulli paraprakRisi Dengan Rayap, Jangan Khawatir Berikut Cara Mengatasi Rayap Dengan Mudah Dan Murah
Artikulli tjetërTerkait Setrategi Kebudayaan, Pamong Budaya Bogor Apresiasi Terbitnya Perpres No. 114 Tahun 2022